
Anies Baswedan adalah salah satu tokoh politik Indonesia yang selalu menjadi sorotan publik. Sosoknya dikenal sebagai seorang akademisi, cendekiawan, sekaligus pemimpin yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada periode 2017–2022. Selama masa kepemimpinannya, Anies melahirkan sejumlah kebijakan dan terobosan yang tak jarang menuai apresiasi sekaligus kritik. Namun, dibalik dinamika politik yang melingkupinya, tidak bisa dipungkiri bahwa ia meninggalkan sejumlah prestasi penting yang berpengaruh bagi wajah Ibu Kota.
Ketika berbicara tentang pencapaian Anies, kita tidak hanya bicara soal pembangunan fisik, tetapi juga inovasi kebijakan yang menyentuh masyarakat luas. Ia berusaha menghadirkan Jakarta sebagai kota yang lebih ramah bagi warganya, dengan konsep pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Dari infrastruktur hingga kebijakan sosial, ada banyak catatan menarik yang menunjukkan kontribusi signifikan selama ia menjabat.
Salah satu prestasi besar yang cukup menonjol adalah pembangunan Jakarta International Stadium (JIS). Stadion megah berstandar internasional ini dibangun di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan menjadi ikon baru ibu kota. JIS bukan sekadar tempat pertandingan olahraga, tetapi juga ruang publik multifungsi yang dapat digunakan untuk konser, kegiatan komunitas, hingga event internasional. Kehadiran stadion ini mengangkat citra Jakarta sebagai kota global yang siap bersaing dengan kota-kota besar dunia.
Selain itu, Anies juga dikenal dengan program Jakarta bebas banjir melalui konsep naturalisasi sungai. Meski kebijakan ini menimbulkan perdebatan, namun gagasan mengedepankan pendekatan lingkungan hidup mendapat dukungan banyak pihak. Alih-alih hanya mengandalkan betonisasi, ia mencoba mengembalikan fungsi alami sungai dengan ruang terbuka hijau, taman kota, serta jalur pedestrian di sekitarnya. Upaya ini menunjukkan keberanian dalam menawarkan solusi yang lebih berkelanjutan terhadap masalah klasik ibu kota.
Dalam bidang transportasi, Anies menghadirkan sejumlah terobosan yang membuat mobilitas warga menjadi lebih mudah. Salah satunya adalah integrasi transportasi publik melalui program JakLingko. Dengan sistem ini, berbagai moda transportasi seperti TransJakarta, MRT, LRT, hingga angkutan mikro trans terhubung dalam satu sistem pembayaran yang lebih praktis. Konsep integrasi ini tidak hanya memudahkan warga, tetapi juga mendorong peningkatan penggunaan transportasi umum untuk mengurangi kemacetan dan polusi.
Tidak berhenti di situ, Anies juga dikenal memperhatikan ruang terbuka hijau dan ruang interaksi publik. Salah satu contoh nyatanya adalah revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kebudayaan di Jakarta. Proyek ini memberikan wajah baru bagi dunia seni dan budaya, serta mendukung komunitas kreatif ibu kota agar memiliki ruang berekspresi yang lebih baik. Dengan demikian, pembangunan Jakarta tidak hanya berfokus pada infrastruktur keras, tetapi juga aspek kebudayaan dan kreativitas masyarakat.
Dalam bidang sosial, kebijakan Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus dan Kartu Jakarta Sehat (KJS) Plus yang dikembangkan pada masa kepemimpinannya memberikan akses lebih luas bagi warga kurang mampu. Melalui KJP Plus, anak-anak dari keluarga prasejahtera mendapat bantuan biaya pendidikan, sementara KJS Plus memastikan masyarakat miskin tetap memiliki akses layanan kesehatan. Dua program ini mempertegas komitmen Anies dalam membangun Jakarta yang inklusif dan berkeadilan.
Selain itu, di bawah kepemimpinannya, Jakarta juga sukses menjadi tuan rumah Formula E, sebuah ajang balap mobil listrik internasional. Meski pelaksanaannya diwarnai pro dan kontra, keberhasilan penyelenggaraan ajang ini menjadi langkah maju bagi Jakarta untuk dikenal sebagai kota yang mendukung energi bersih dan ramah lingkungan. Formula E juga menandai komitmen Jakarta dalam mendukung agenda global terkait transisi energi hijau.
Tidak kalah penting, Anies juga memperhatikan pembangunan manusia melalui program-program peningkatan kualitas hidup warga. Salah satunya adalah pembangunan dan renovasi sekolah, perbaikan fasilitas publik, serta penyediaan hunian vertikal untuk masyarakat menengah ke bawah. Upaya ini merupakan jawaban atas tantangan urbanisasi yang terus meningkat di ibu kota.
Tentu saja, semua prestasi itu tidak lepas dari kritik dan dinamika politik yang mewarnai masa jabatannya. Namun, yang jelas, Anies berhasil meninggalkan warisan berupa kebijakan dan infrastruktur yang memberi dampak nyata. Jakarta menjadi lebih dikenal secara internasional, memiliki fasilitas kelas dunia, sekaligus ruang publik yang semakin inklusif.
Keberhasilan-keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Anies di Jakarta tidak hanya mengedepankan pembangunan fisik semata, tetapi juga aspek sosial, budaya, dan lingkungan. Warisan inilah yang akan terus dikenang oleh masyarakat Jakarta, meski ia telah menyelesaikan masa jabatannya sebagai gubernur.
Singkatnya, prestasi penting Anies Baswedan ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta mencakup pembangunan stadion internasional, integrasi transportasi publik, pengembangan ruang publik dan budaya, hingga program sosial yang berpihak pada rakyat kecil. Dengan segala kontroversi dan apresiasi yang menyertainya, kepemimpinan Anies tetap menjadi salah satu bab penting dalam sejarah perkembangan ibu kota.